Selamat Datang Di Blog Ayu

Pages - Menu

Selamat Membaca

Sabtu, 20 April 2013

"seklumit TAPI legit kisah perjalanan di jurusan Ilmu Perpustakaan"


Bismillahirahmannirrahim........

Succes story ?_?, wow, kaget..itu kesanku, kali pertama membaca postingan dosenku, ibu Labibah Zain di Group Prodi Ilmu Perpustakaan, beliau yang akrab dengan panggilan ”maknyak” hehe... jadi inget kaya di sinetron itu tu, tarzan mandra, si amndra kalau lagi ngeglayut sering teriak maknyaak....hehe, eits tapi engga kok, justkid_just kidding. Dosen aku yang satu ini seorang figur yang keren, aktif, kreatif dan inovatif terbukti dengan berbagai dinamika yang beliau torehkan dari tugas setiap angkatan yang selalu inovatif. Pokoknya tugas kuliah dari beliau itu selalu menantang tapi mengasyikkan, karena memberikan pengalaman yang begitu luar biasa. 

Ya, berkaitan dengan tugas IDKS (Informasi Dalam Konteks Sosial) dengan tema “Succes Story”. Maka, sekarang aku akan mencoba menuliskan sekilas succes story dari kakak kelasku. Cerita sukses teman-teman Jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi (Majors Library and Information Science), siapa bilang orang yang kuliah di jurusan perpustakaan itu ga banget, norak, malu-maluin, cupu dan jauh dari kepopuleran? Untuk membuktikannya, aku telah mewawancarai salah tiga personel mahasiwa-mahasiswi JIP. Hehe...maaf sebelumnya. Sebenarnya mau mengulas satu teman saja, tapi karena dipikir-pikir untuk motivasi ya sudah 3 juga tak apa. Why Not? 

Narasumbernya, yaitu: Mba Anick Rosidah angkatan 2009, Mas Moh. Mursyid angkatan 2009, dan Mba Ema Puji lestari angkatan 2010. Yah, dari ketiga teman tersebut memiliki keunikan masing-masing. Berikut kisahnya, check it Out.....

(Anick Rosidah)

Mba Anick Rosidah menceritakan, ketika awal masuk kuliah jurusan IPI bisa dibilang “kecelakaan”, karena mungkin memang tidak sesuai keinginannya. Akan tetapi dukungan dari dosen dan orangtua, berhasil memotivasi mba Anick Rosidah untuk terus melanjutkan belajar di jurusan yang masih langka itu. Yah, saya pernah mendengar dari salah satu ibu kakak kelas saya, bahwa orang sukses itu tidak berawal dari sesuatu yang besar. Jadi bisa dari sesuatu yang kecil alias langka itulah, jika kita tekuni pasti berhasil. Ibarat tanaman, kita pupuk agar menjadi tumbuh besar, berbuah dan bermanfaat bagi sekitar.

Lanjut. Kisah mba Anick Rosidah, ia mengatakan awal semester pertama masih merasa agak aneh dan bertanya-tanya sendiri tentang jurusan IPI dan banyak orang meremehkan jurusan IPI, malah ada yang bilang "jaga perpustakaan aja kok kuliah" dan mba Anick sempat terintervensi oleh kalimat itu. Namun, setelah mencoba menjalani kuliahnya, ternyata tidak semudah yang mereka kira. Hanya menjaga buku saja, It’s Wrong, you know? Hehe.. Ternyata mba Anick lama-lama mulai mencintai JIP di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini, yang terkenal dengan kampus Rakyat. J

Akhirnya, semangat itu tumbuh dan terus menyala di benaknya. Mba Anick punya tekad untuk membangun citra pustakawan supaya lebih baik dan menunjukkan bagaimana pustakawan juga bisa mendunia. Selanjutnya, mba Anick mulai ikut organisasi intra jurusan, yaitu ALUS dengan motivasi ingin mengetahui jurusannya lebih mendalam dan apa itu “Pustakawan”. Kala itu, selain ada BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) juga ada Himpunan Mahasiswa ALUS (Assosiation Librarian of University Student). Namun, sekarang juga sudah ada LIBERTY (Librarian Educational *Relationship* Community). LIBERTY resmi berdiri pada tanggal 5 juni 2011..sekilas info J

Perlu sobat tahu, saat ini mba Anick sudaah lulus. Mba Anick menjadi salah satu dari 7 lulusan tercepat angkatan 2009, pada awal bulan April kemarin. Mba Anick juga telah diterima bekerja sebagai Pustakawan di Perpustakaan UIN Sunan Kaljaga Yogyakarta sebelum diwisuda. Perpustakaan yang telah mendapat berbagai penghargaan dan telah menggunakan Teknologi RFID nomor satu di Indonesia itu.

Pesan Mba Anick, “Jangan pernah menyesali apa yang telah menjadi keputusan kita...karena orang yg hebat adalah orang yg melakukan hal terbaik sekalipun tidak ia sukai.” 

****



Mas Mursyid, kenapa Mas Mursyid masuk jurusan IPI yaa, karena “kecelakaan”, “kesasar” atau “keinginan hati”? berikut ceritanya:
Jawaban mas Mursyid membuatku “kagum”. Mas Mursyid itu tidak pernah mau menyebut “kecemplungan dirinya” di jurusan IPI UIN sebagai "kecelakaan" karena pada dasarnya kita sendiri yang sudah memilih di awal masuk kuliah. Jika kita menganggap itu sebagai kecelakaan, maka kita sendiri yang mencelakakan diri sendiri. bukan begitu? semua itu pilihan kok. begitulah ungkapnya, 

Setelah lulus MA, Mas Mursyid dianjurkan untuk masuk ke STAN Jakarta oleh orang tuanya. Tapi di sela itu, Mas mursyid mencoba mendaftar di UGM dengan mengambil jurusan Psikologi/ Sosiologi/ Ilmu Komunikasi yang memang beliau inginkan. Akan tetapi, ternyata Tuhan berkata lain, Mas Mursyid belum diterima sobat. 

Mas Mursyid bisa dibilang, sosok jiwa yang pantang menyerah alias tangguh tidak mudah putus asa. Karena ia tidak berhenti mencoba. Ia mencoba keberuntungan lain melalui jalur SNMPTN dan mengambil pilihan di UGM. Akan tetapi, belum diterima juga. Akhirnya dengan berbagai pertimbangan, sampailah pilihannya ke Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Terbilang cukup jauh juga, karena Mas Mursyid itu dari Pati. Nah, ketika masuk UIN, Mas Mursyid memilih pilihan jurusan 1. Psikologi, 2. IPI, 3. Sosiologi. Dengan alasan sebagai berikut: Psiokolgi, grade (nilai standarnya) paling tinggi di UIN, kisaran 27,5. Sedangkan Sosiologi kisaran 19,5/20. Nah, untuk mengisi kekosongan di antara jurusan tersebut, Mas Mursyid memilih Ipi yang gradenya kisaran 25. Wooww,,,lebih tinggi dari Sosiologi bukan gradenya dan sedikit di bawah Psikologi. Adapun alasan memilih IPI, bisa dibilang karena ketidaktahuannya dengan Jurusan IPI. Namun, karena dengan ketidaktahuan itulah, yang membawanya ke JIP UIN...

Selanjutnya saya dan teman-teman bisa mengenal sosok Moh. Mursyid...hehe. Mas Mursyid selalu memiliki alasan yang jelas setiap ia mengambil keputusan atau memilih sesuatu. Yaa..seperti akan memilih jurusan IPI, ia memang tidak tahu tentang jurusan IPI. Akan tetapi, dibalik itu ia juga ingin bisa tahu nan bisa menggali serta menjawab rasa penasaran yang singgah pada benaknya. Alhasil, ketika pengumuman, namanya masuk kategori pendaftar yang diterima di jurusan IPI. Yeay ... J

Mas Mursyid sama sekali tidak menyesal meskipun JIP bukanlah jurusan yang ia inginkan karena baginya, apapun jurusannya, ia harus menjadi ahli di bidang tersebut. Seperti slogan apapun makanannya, minumnya teh botol sosro....hehe. Jadi, otomatis Mas Mursyid tidak menyesal sama sekali sudah memilih jurusan IPI, CHAYOO ANAK IPI UIN (termasuk aku) semangat_Ganbatte. 

Setelah “bercinta” dengan jurusan IPI kurang lebih 3,5 tahun belum ada. Mas Mursyid terlihat begitu enjoy dan membuat karya dengan jurusannya sobat, meskipun ia tidak aktif dalam organisasi intra kampusnya. Ia pernah mengikuti UKM SPBA, yaitu unit kegiatan mahasiswa mengenai bahasa arab dan inggris. Namun, ia bisa dibilang pasif, mungkin karena banyak tugas kali ya, atau karena kegemarannya dalam pencarian pengalaman di luar kampus? Mau tahu, lihat ke bawah...

Mas Mursyid juga tergabung sebagai volunter di TBM Cakruk Pintar, selain itu ia juga menjadi part timer di Perpustakaan UIN Yogyakarta pada tahun 2011 hingga akhir 2012. Sekarang beliau bekerja sebagai part timer di Perpustakaan FEB UGM dan Emha Ainun Nadjib (EAN). 

Nah, awal perjumpaan saya (Ayu) dengan Mas Moh. Mursyid ketika ia ada di SC (Student Center) di basecamp BEM JIP (Jurusan Ilmu Perpustakaan). Di situlah aku mengenalnya. Hari, minggu, bulan pun berganti. Aku menemukan buku The Key Word: Perpustakaan di mata Masyarakat, ketika sedang berada di Perpustakaan Universitas. Buku itu berisi kumpulan tulisan atau artikel dari orang yang berbeda-beda, yang menulis di dalam buku itu dari berbagai kalangan, mulai dosen, pustakawan, mahasiswi IPI hingga ada cerita seorang anak kecil. Cerita atau isi buku itu berhubungan dengan paradigma dan kesan mereka terhadap perpustakaan dan yang menjadi editornya adalah “maknyak” alias dosen kami di JIP UIN Ibu Labibah Zain. 

Selanjutnya ketika ayu baca-baca buku itu, sontak kaget dan wow banget..hehe, lebay ya? Bagaimana tidak ternyata ada tulisan dari mas Moh. Mursyid juga. Mas Moh. Mursyid menuliskan artikel dengan judul "Wisata ke Perpustakaan? Why Not?", dalam Buku antologi "The Keyword: Perpustakaan di Mata Masyarakat itu, inti ceritanya mengisahkan bahwa perpustakaan adalah tempat yang asyik untuk rekreasi, apalagi jika bersama keluarga dan teman-teman sebagai alternatif untuk mengisi waktu liburan sekolah.

Mas Moh. Mursyid pernah berkata, “awalnya saya tidak suka menulis, tapi setelah masuk kuliah keinginan itu tiba-tiba muncul. Sejak awal menulis, kurang lebih 1 th lebih tulisan saya tidak pernah dimuat di media dan justeru tulisan saya yang pertama bukan ada di koran, melainkan di dalam buku "The Keyword", itu yang bagi saya istimewa. Setelah buku itu terbit, tulisan saya masih saja tidak dimuat di media. Alhamdulillah tulisan saya baru dimuat pada tahun berikutnya (maklum, saya belum pernah ikut pelatihan kepenulisan sebelumnya, hehehe).” Begitulah ucapan mas mursyid kepada ku. 

Jika aku melihat Mas Mursyid beliau bisa dibilang sebagai salah seorang aktivis. Yah, aktivis LITERASI...mengembangkan, menyebarluaskan kegiatan membaca dan menulis. Tulisan Mas Mursyid terhitung produktif, semenjak tulisannya bisa tembus di koran. Saya mendapatkan daftar karya tulis dan prestasi Mas Mursyid dari GROUP JIP yang dibuat oleh Kaprodi JIP Ibu Sri Rohyanti Zulaikha tapi data ini saya dapat ketika tahun 2013 awal, tentunya sekarang prestasinya mas morsyid sudah bertambah lagi. Berikut daftarnya karya tulisnya:

1. "Wisata ke Perpustakaan? Why Not?", dalam Buku antologi "The Keyword, Perpustakaan di Mata Masyarakat (Yogyakarta: Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Perpustakaan Kota Yogyakarta dan Blogfam.com, 2011)
2. TBM, Bukan sekedar Tempat Baca, (Majalah BEM Ilmu Perpustakaan “Sahifa”, edisi I/Th.I/ Jan 2012)
3. Mendekatkan Siswa dengan Buku, (SKH Kedaulatan, Kamis 26 April 2012)
4. Ketika Buku Menjadi Racun, (Suara Merdeka, 5 Mei 2012)
5. Sediakan Buku Kesehatan di Ruang Tunggu RS, (Jawa Post, Kamis 10 Mei 2012)
6. Buku Bermasalah Simpan di Perpustakaan Khusus, (Republika, Kamis 7 Juni 2012)
7. Ubah Paradigma Taman Bacaan, (Harian Bernas Jogja, Senin 11 Juni 2012)
8. Memaksimalkan Perpustakaan, (Suara Merdeka, Senin 11 Juni 2012)
9. Soekarno dan Tradisi Intelektual, (SKH Kedaulatan Rakyat, Selasa 26 Juni 2012)
10. Mengelola E-Book pada PC, (SKH Kedaulatan Rakyat, Senin 2 Juli 2012)
11. Kurangi Jam Anak Menonton TV, (Republika, Kamis 5 Juli 2012)
12. Ubah Format Jam Belajar Masyarakat, (Harian Bernas Jogja, 2012)
13. Keliling Kampung Sambut Ramadhan, (Liputan kegiatan KKN 77 yang dimuat di Harian Bernas Jogja, Sabtu 21 Juli 2012)
14. Ramadhan Ceria di Masjid at-Taubah, (Liputan kegiatan KKN 77 yang dimuat di Harian Bernas Jogja, Sabtu 4 Agustus 2012)
15. Pemilukada dan Pendidikan Karakter, (Republika, Selasa 9 Oktober 2012)
16. Memaknai Melek Aksar, (Harian Bernas Jogja, Kamis 8 November 2012)
17. Menerapkan Library Based Learning di Sekolah, (Harian Bernas Jogja, Rabu 21 November 2012)
18. Belajar dari Sosok Epistoholic, (Okezone.com, Selasa 27 November 2012)
19. Inovasi Pembelajan di Pesantren, (Harian Umum Galameia, Senin 10 Desember 2012)
20. Mendamba Gerakan “Pati Membaca”, (Suara Merdeka, Rabu 26 Desember 2012)
21. Menyingkat Alamat URL dengan URL Shortener, (SKH Kedaulatan Rakyat, Senin 7 Januari 2013)
22. Pengolahan Bahan Perpustakaan, (Makalah disampaikan pada pelatihan singkat di Perpustakaan Daerah (Perpusda) Tulungagung, Jawa Timur pada 21 Januari 2013)
23. Part-timer Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (Januari 2011- Desember 2012)
24.Part-timer Perpustakaan Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM Yogyakarta (September 2012- sekarang)
25. Volunteer TBM Cakruk Pintar Yogyakarta (2011- sekarang)
26.Tim MEDP (Madrasah Education Development Project) Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (2012).
27. Juara II Story Telling Program Studi Ilmu Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga
28. Juara harapan I LKTI Populer UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2012

# Pengalaman menjadi Pemateri:
1. Kiat- kiat Mengelola Taman Bacaan Masyarakat (Minggu, 16 Desember 2012 di TBM Bina Insan Mulia, Sambisari, Kalasan, Yogyakarta)
2. Pelatihan singkat pengolahan bahan perpustakaan (Senin, 17 Januari 2013 di Perpustakaan Daerah (Perpusda) Tulungagung, Jawa Timur)
3. Wawasan kepustakawanan ( Minggu 17 Februari 2013, Sekolah Kader Muda Klaten Angkatan I)

#Lain-lain:
1. Mewakili TBM Cakruk Pintar dalam acara Hari Literasi Internasional di Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI (2011)
2. Koordinator Kelompok Cinta Baca "Leutika Reading Society (LRS) UIN Sunan Kalijaga" (Salah satu program dari Penerbit Leutika Yogyakarta, 2011).
3. Gagal meraih Beswan Djarum dan hanya lolos pada tahap awal (2011)
4. Berkali-kali tulisannya tidak dimuat oleh Surat Kabar kurang lebih selama 1 tahun (2010)

Subhanallah banyaknya ya, sekelas mahasiswa yang masih mengenyam pendidikan di bangku kuliah jurusan IPI, sudah seperti ini. Terbukti kan bahwa dengan Jurusan Ilmu Perpustakaan, bisa populer dan malah bisa dapet banyak ni’mat. JJ 

Pesan mas mursyid, teruslah bersifat 'open mind'. Terus kembangkan perpustakaan, karena nantinya kalian lah pemilik perpustakaan tersebut dan itu terserah perpustakaan mau kalian buat seperti apa. Namun yang jelas, tetap berkreatifitas dan harus mau keluar dari zona aman.J Jadi ingat, salah satu motto hidup bapak Blasius Sudarsono seorang begawan kepustakawanan yaitu “Hidup itu harus dijalani dan dinikmati. Namun tetap terus bereksperimentasi”. Semangat.
****


(http://aimmaviolettaipi2010.blogspot.com/)
Mba Ema Puji Lestari adalah mahasiswa angkatan 2010, yang sekarang masih semester VI. Menurutku ia adalah pribadi unik dan berprinsip, bukan berarti yang lainnya tidak seperti Mba Ema ya...Aku kenal Mba Ema di himpunan mahasiswa LIBERTY. Langsung saja nie...Mba Ema itu masuk jurusan IPI bukan karena keterpaksaan, kecelakaan atau kesasar melainkan karena keinginan hati. 

Pada saat duduk di bangku SMA, Mba Ema sudah belajar sedikit-sedikit mengenai Ilmu Perpustakaan. Dari situlah, ia termotivasi mengambil jurusan IPI dengan berbagai perjuangan untuk membuat orang tuanya mau menyekolahkannya lagi di Perguruan Tinggi.

Dari kecil, mba ema memang suka membaca, bagi orang-orang..mungkin perpustakaan itu hanya sebuah tempat penyimpan buku, namun baginya perpustakaan adalah surga, yaa..surga ilmu. Tempat ilmu di simpan yang mengizinkan siapapun untuk mengambilnya. 

Di jurusan IPI, Mba Ema melakukan banyak kegiatan, diantaranya menjadi volunter difabel, staf keuangan atau usaha di salah satu lembaga dari kopma, aktiv di LIBERTY dan masih banyak lainnya. Prinsip Mba Ema adalah prioritaskan yang utama dan jika kau ingin masuk organisasi jangan hanya menjadi penonton di organisasi tersebut. Akan tetapi, ciptakan sejarah di dalam hidup dan organisasimu. Tidak semua orang bisa melakukan apapun, tapi lakukan satu hal dengan cara yang apik dan luar biasa. Jadi, kita harus benar-benar hati-hati dalam memilih organisasi, bukan berarti organisasi itu ada yang buruk. Namun, kita harus pandai memilih organisasi mana yang sesuai dengan pribadi kita karena kita juga akan mengukir dan menciptakan sejarah melalui organisasi itu.

Banyak prestasi mba ema yang tidak ku ketahui, maka itu aku hanya menuliskan ini saja, tapi yang ku tahu mba ema bersama kedua temannya mas budi dan mas ridwan pernah pergi ke seminar di UI yang pematerinya juga Bu Labibah Zain, mereka memperkenalkan jurusan IPI UIN dan akhirnya jurusan IPI UIN Yogyakarta pun telah dikenal di kancah nasional. J horee. Semoga adik-adik angkatannya bisa membuat karya yang lebih baik dengan jurusan IPI.(my hope)

****



Aku pun memiliki cerita tersendiri mengenai jurusan ku ini, karena aku masuk JIP UIN, aku jadi kenal sosok orang-orang sukses bahkan di sini kita bisa bersahabat dengan dosen. Salah satunya bapak Blasius, kini beliau sudah pensiun. Kemudian, karena jiwa kepustakawanannya sudah tertancap, terpatri dalam dirinya. Maka beliau memutuskan menjadi Virtual Reference. Setelah pensiun Bapak lebih nyaman disebut sebagai “Pemerhati Kepustakawanan Indonesia”. Dari situlah bapak berusaha untuk memberikan semangat-semangat pada saudara-saudaranya yang ada di JIP manapun dan beliau selalu membukakan pintu bagi siapapun yang ingin berteman atau berkonsultasi padanya mengenai perpustakaan, tentunya.

Nah, dari ketiga person tadi sudah terbukti belum? bahwa orang yang kuliah di jurusan IPI itu engga flat dan ngebosenin. Justeru malah populer, yang tadinya belum pernah pergi, misal ke Jakarta, Philipina bisa pergi ke sana karena lagi kuliah di JIP, yang tahunya perpustakaan paling besarnya cuma segitu-gitu aja, alias “kecil”, sekarang jadi tahu ada perpustakaan yang bagus seperti hotel sampai berlantai 4 bahkan 5, terus masuk jurusan IPI UIN juga ngebanggain dan mempunyai masa depan yang cerah insyaAllah, aamiin. Engga kalah dengan profesi, seperti dokter, polisi, guru, pilot, you know? Tinggal bagaiman kita memandang dan membuat supaya profesi kita itu bisa dipandang dan terpandang. Jadi kesimpulannya ada pada kekreativitasan setiap individu bagaimana mau mengukirnya. 


Nah, itu tadi baru secuil cerita dari teman-teman kita di jurusan IPI, belum lainnya. Semoga menginspirasi khususnya untuk kita sebagai calon pustakawan dan umumnya cerita ini juga mampu membukakan mindset orang-orang yang menganggap rendah jurusan IPI..aamiin. Selanjutnya, saya ucapkan terima kasih bagi kakak-kakak ku yang telah bersedia ayu ganggu waktunya. Untuk sobat semua, apakah sobat punya tanggapan, saran dan kritik mengenai cerita ini? Silakan sampaikan di komentar ya, demi kebaikan bersama...Sekian, terima kasih atas kesediaanya untuk membaca cerita yang ku tulis. Salam Sukses #IDKS

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar